suka fajar

suka fajar

Sabtu, 15 Oktober 2011

Perjalanan Panjang Si Kepala Kuning


  MUNGKIN Hanya sedikit yang mengetahui bahwa kelahiran kendaraan Mitsubishi Colt Diesel sangat erat kaitannya terhadap pembangunan sebuah negeri bernama Republik Indonesia. 


Mitsubishi terlahir dari ide brillian yang memanfaatkan peluang yang muncul sejalan dengan kebijakan pemerintah di akhir tahun 60-an mengenai penanaman modal, baik modal asing, maupun modal dalam negeri. 



Tahun 1970, berdirilah PT New Marwa 1970 Motors (NMM) yang awalnya sebagai distributor tunggal Mitsubishi di Indonesia. Seiring dengan waktu, pada tahun 1973 perusahaan ini berganti nama menjadi PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) hingga kini. 



Inti bisnisnya kala itu menyesuaikan kondisi negeri ini yang tengah giat-giatnya melaksanakan pembangunan yang tentunya membutuhkan sarana pendukung berupa kendaraan-kendaraan angkut berbagai ukuran yang dilihat oleh KTB sebagai peluang bisnis sekaligus meraih kesempatan untuk ikut berperan langsung dalam proses membangun negeri. 



Mitsubishi seri Colt sendiri, diawali dengan kelahiran Colt T100 pada 1971, setahun setelah penandatanganan kontrak kerjasama antara, Presiden dari Mitsubishi Corporation, dengan Presiden Komisaris Mitsubishi Krama Yudha Sjarnoebi Said pada awal tahun 1970. 



Tahun 1972 KTB meluncurkan Colt T120 yang merupakan pengembangan dari Colt T100 dan dikenal sebagai si 'Raja Jalanan'. Setahun kemudian pabrik perakitan truk pun dibangun di bawah bendera PT Krama Yudha Ratu Motor (KRM) yang didirikan pada tahun 1973, tahun yang sama dengan penggantian nama PT New Marwa 1970 menjadi PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors. 



Pepatah 'Apa arti sebuah nama', tidak berlaku bagi KTB karena Krama Yudha itu sendiri memiliki makna Tata Krama Peperangan yang menjadi pegangan Mitsubishi dalam menjalankan roda bisnis di Indonesia. Bisnis harus tetap memegang teguh tata krama meski dalam persaingan sengit. 


Colt Diesel
   Pesatnya pembangunan negeri mendorong KTB menghadirkan truk Colt Diesel T200 pada tahun 1975, yang menjadi cikal bakal sang legenda si 'Kepala Kuning'. Di tahun itu KTB mengeluarkan Colt Diesel T200 CU, T200 CH dan T210FZ.  Empat tahun kemudian tepatnya pada 1979, Colt Diesel berkembang dengan seri baru yaitu model FE101 dan FE111. Pengembangan terus berlanjut pada 1984 dengan hadirnya model FE104.  Citra kuat si'Kepala Kuning' semakin ditancapkan dengan diluncurkannya model FE119 Aniki yang mengusung mesin 120PS bersamaan dengan kehadiran FE449. Tahun 1995 Colt Diesel kembali melahirkan generasi FE499 bertenaga 120PS yang disusul model FE447 pada 1996.  Melihat tingginya kebutuhan pasar akan kendaraan handal, pada tahun 1997 KTB meluncurkan rangkaian model Colt Diesel terbaru FE304, FE334, FE347 dan FE 349. Begitu pula ketika melihat banyak konsumen yang menyulap Colt Diesel truk menjadi bus, KTB pun meluncurkan Colt Diesel FE 446 khusus untuk keperluan sasis bus pada tahun 2000.  Rangkaian model FE304, FE334, FE347 dan FE 349 mengalami penyegaran pada tahun 2002 yang dilanjutkan dengan hadirnya versi pekerja berat (Heavy Duty) FE334 HD dan FE349 HD pada 2003. Colt Diesel versi sasis bus pun tak luput dari perhatian KTB lewat produk baru FE304.  Selain menyajikan produk berkualitas, KTB juga giat mengembangkan jaringan hingga ke pelosok Tanah Air sehingga sejak awal, para konsumennya mendapatkan jaminan ketersediaan suku cadang. Hal inilah yang membuat kendaraan niaga Mitsubishi kian populer tidak hanya karena ketangguhannya, tetapi juga mudah dan murah dalam hal perawatannya.  Kondisi ini terpelihara hingga hampir empat dekade yang membuat nama Mitsubishi begitu lekat di hati masyarakat terutama di daerah-daerah terpencil, khususnnya di wilayah-wilayah dengan kondisi alam yang belum tersentuh oleh pembangunan infrastruktur memadai.  Melihat keberhasilan kendaraan niaga Mitsubishi, khususnya Colt Diesel, para kompetitor tertarik untuk bermain di lahan yang sama. Berbagai produk sekelas hadir membanjiri pasar dengan sederet keunggulan. Akan tetapi tetap saja mereka tak berhasil menggeser posisi Colt Diesel dari hati masyarakat yang sudah membuktikan ketangguhan produk Mitsubishi yang satu ini.  Ada satu hal yang luput dari perhitungan bisnis para kompetitornya, yaitu kebiasaan masyarakat Indonesia terutama di pelosok-pelosok yang kerap berpikir sederhana dalam mengoperasikan armada angkut mereka yaitu: Prinsip Ekonomi.  Prinsip ekonomi yang satu ini cukup unik. 'Kalau bisa diangkut dengan dua rit, kenapa harus tiga rit?'. Konsekuensinya, kendaraan dipaksa mengangkut beban jauh di atas kapasitasnya, dan itu dapat mereka lakukan pada Colt Diesel milik mereka berkat kekuatan sasisnya yang tidak dimiliki kompetitor.  Belum lagi berbicara masalah ketangguhan mesin dieselnya yang efisien namun memiliki output besar plus ketersediaan suku cadang yang mudah dan murah.  Kecintaan terhadap Colt Diesel semakin tak tergoyahkan justru ketika segelintir konsumen mencoba beralih ke produk lain yang justru semakin memperjelas kelebihan Mitsubishi.  Untuk urusan ketersediaan suku cadang, kita bisa mengambil contoh di daerah Kalimantan  di kawasan hutan Bukit Bengkirai Kalimantan Timur. Di kawasan ini Anda tak perlu takjub ketika menemukan bangunan toko sederhana yang menyediakan aneka suku cadang Mitsubishi, mulai Fuso, Colt Diesel, L200 Strada hingga L300. Padahal lokasi ini cukup jauh dari 'peradaban' alias terpencil.  Kesuksesan menjual Colt Diesel di Indonesia, tidak membuat KTB terlena. Isu lingkungan dan pemanasan global tak luput dari perhatian perusahaan. Sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 141 tahun 2003 tentang batas emisi gas buang, dimana teknologi kendaraan diproduksi mulai tahun 2007 harus sesuai dengan Standar Euro 2. KTB pun meluncurkan New Colt Diesel berstandard Euro2.  Kini produk-produk Mitsubishi Colt Diesel hadir dengan citra brand baru dengan penggunaan nama Fuso sang 'kakak'. Bukan hanya sekadar nama yang berevolusi, mesin pun mengalami penyempurnaan dengan disisipkannya perangkat turbo plus intercooler yang menyebabkan  tenaga Colt Diesel makin kuat, sekuat brand image yang telah ditancapkan selama empat dekade di Tanah Air.—doni martha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar